Selasa, 13 April 2004 Oleh : Eva
Martha Rahayu. Riset : Asep Rohomat
Tak perlu modal besar untuk menjadi franchisee karena sekarang banyak tawaran
waralaba dengan modal di bawah Rp 100 juta. Keuntungan yang ditawarkan pun
sangat menggiurkan. Mau mencoba?
Pada satu sore di Mal Taman Anggrek, Rossiani Purba tertegun memandangi
antrean pembeli kudapan di rombong Fresh & Corn (FC). Sepintas tak ada yang
aneh. Snack jagung rebus itu dikemas dalam cup dengan tiga varian rasa.
Pemandangan senada dijumpai lagi di pusat perbelanjaan lain. Ia pun penasaran
apa yang istimewa dari FC, sehingga dipadati konsumen. Selain mencoba makan FC,
dia segera mencari informasi siapa pemilik bisnis itu dan bagaimana sistem
penjualannya.
Begitu mendengar jawaban, FC dikembangkan melalui kerja sama waralaba, tak
banyak berpikir Rossiani langsung menyambarnya. Per Mei 2003, dia resmi tercatat
sebagai franchisee FC. "Inilah yang saya cari-cari selama ini, dan saat itu
juga bikin kontrak tiga gerai," ujar karyawati perusahaan ekspedisi itu.
Memang banyak pilihan bisnis waralaba di depan mata. Akan tetapi, baru pola
franchise FC yang cocok baginya. Investasi awal cukup setor Rp 16 juta, tapi
omzetnya bisa Rp 39,6 juta/bulan tiap outlet. "Investasinya murah dan cepat
kembali modal," tuturnya.
Mula-mula Rossiani tidak menyangka jika respons konsumen FC di Atrium Senen
sebesar itu. Awalnya hanya menargetkan 100 cup/hari karena lokasi outlet-nya di
lantai dua. Pada kenyataannya, gerainya itu mampu menjual rata-rata 220 cup tiap
hari. Belum lagi hari libur bisa membengkak.
Potensi laba yang dihasilkan waralaba FC cukup menggiurkan. Andy Christopher,
franchisor FC dalam bendera PT Anvic Multi Bisnis, memproyeksikan margin laba
franchise FC bisa mencapai 45%, padahal umumnya berkisar 10%-20%. Itulah
sebabnya Rossiani antusias menggarap dengan serius bisnis sampingannya ini.
Belum genap setahun menjadi pemegang waralaba FC, dia berhasil melebarkan sayap
hingga lima outlet yang tersebar di mal Jakarta, Tangerang, Samarinda, dan
Balikpapan.
Andy menguraikan, investasi awal Rp 16 juta sudah termasuk paket fasilitas,
yaitu peralatan konter, gerobak, masak, steamer pemasak jagung, jagung untuk 100
cup set pertama, seragam, dan training SPG. "Prinsip kami beli putus, tidak
ada biaya tambahan. Kontrak berlaku seumur hidup sepanjang investor masih
memenuhi persyaratan," paparnya. Dalam kerja sama ini, kepentingan FC untuk
jangka panjang adalah sebagai pemasok jagung dengan harga Rp 27 ribu/kg.
Gambaran kasar kalkulasi investasi dan biaya operasional waralaba FC bisa
dicontohkan dari gerai Rossiani di mal Atrium Senen. Omzet Rp 39,6 juta/bulan
didapat dari rata-rata penjualan 220 cup/hari, dikalikan harga jual per cup Rp 6
ribu. Hitungannya: Rp 6 ribu X 220 X 30 = Rp 39,6 juta.
Sementara itu, biaya operasionalnya terdiri atas sewa konter ukuran 2X3 m2 di
Atrium Senen dengan harga pasaran Rp 4 juta/bulan, gaji dua SPG dengan sistem
shift Rp 1,3 juta/bulan, serta bahan baku dan cup sekitar Rp 17,82 juta/bulan.
Total jenderal, biayanya sekitar Rp 23,12 juta. Dengan demikian, taksiran
untungnya: Rp 16,48 juta (pendapatan Rp 39,6 juta-pengeluaran Rp 23,12 juta).
Jadi, bukan isapan jempol kalau Rossiani mengaku bisa untung setelah tiga bulan.
Padahal, perkiraan awal setahun baru BEP (break even point). "Asalkan kita
pintar pilih lokasi yang banyak dikunjungi orang, kita sangat mungkin akan
kewalahan melayani pembeli," dia membeberkan strateginya.
FC di dunia waralaba boleh dikata pemain baru. Meski diluncurkan pada 2002,
peminatnya sudah ratusan. Hanya saja, setelah diseleksi, yang memenuhi kriteria
30 franchisee yang tersebar di 75 gerai. "Jika lokasinya tidak sesuai
dengan ketentuan kami, aplikasi akan ditolak," ujar Andy tegas. Pihak FC
ingin investor yang aktif mencari lokasi strategis dan bersedia menanggung
risiko. Jadi, tidak sekadar taruh duit saja. Prinsip kerja samanya: win-win
solution. Tak heran, dengan lokasi yang strategis dan aturan ketat, Andy
mengklaim rata-rata investor FC mampu BEP pada bulan kelima.
Di samping FC, bisnis waralaba makanan yang tidak terlalu besar menguras
kocek adalah Crepes & Coins (CC). Camilan CC dengan enam macam rasa ini
produk Bogasari. Namun, mereka enggan disebut murni sistem franchise. "Kami
menyebutnya Paket Usaha, karena sifatnya beli putus," kilah Setion Alvin,
Wakil Presiden Pelayanan Perdagangan dan Pendidikan PT Bogasari Flour Mills.
Dengan modal Rp 30 juta, investor CC akan mendapatkan beberapa fasilitas. Isi
paketnya: pelatihan di Bogasari Baking Center tentang cara memproduksi makanan,
dua unit mesin crepes listrik, chiller stainless steel, meja kertas stainless
steel food grade, dan 10 kg bahan dasar CC.
Besarnya margin yang ditawarkan CC 10%-15% per bulan. Gambaran omzetnya
kira-kira Rp 18-27 juta/bulan. Dengan harga jual CC dipatok Rp 10-15 ribu/potong
kue, rata-rata penjualan 60 potong/bulan, maka hitungannya: Rp 10-15 ribu X 60 X
30 = Rp 18-27 juta. Dengan margin sebesar itu, Alvin memprediksikan dalam tempo
setahun waralaba CC bisa mengalami titik impas.
Ada lagi investasi waralaba dengan modal awal ratusan juta, tapi biayanya
menyusut setelah tahun pertama. Simaklah pengalaman Budi Rahmad yang tercatat
sebagai investor waralaba minimarket Alfamart sejak Mei 2003. Dengan modal awal
Rp 250 juta, Budi mendapatkan tipe 54 rak untuk masa kontrak per lima tahun.
Tiap bulan masih dipungut distribution fee 2% dari delivery barang. Dan, setiap
lima tahun berikutnya cukup bayar franchise fee Rp 50 juta. "Jadi, saya
berinvestasi cukup besar pada awal saja, karena supply barang dari Alfamart.
Berikutnya, cuma bayar distribution fee dan franchise fee," jelasnya.
Lokasi Alfamart milik Budi terletak di kawasan Bendungan Jago, Kemayoran.
Daerah itu cukup ramai, lantaran berada di kawasan permukiman dan pertokoan. Tak
heran, rata-rata omzetnya Rp 300-330 juta/bulan. Budi mengaku meski dibebani
biaya sewa gerai Alfamart Rp 130 juta/5 tahun dan bayar gaji 12 karyawan, tapi
omzetnya melebihi biaya operasional. "Pokoknya saya rata-rata bisa
menghasilkan keuntungan Rp 10 juta per bulan, tapi belum dikurangi fee
delivery," ungkap Budi.
Lain cerita pengalaman Ali Hanafia yang memproklamirkan diri sebagai investor
Century 21 --waralaba broker properti asal AS-- mulai 1998. Izin telah
dikantungi sejak 1997 dengan membayar investasi US$ 25 ribu (setara Rp 57,5 juta
dengan kurs Rp 2.300/US$) untuk masa kontrak lima tahun. Berdasarkan perjanjian
dengan master franchiser Century 21 di Indonesia, setelah masa kontrak lima
tahun pertama berakhir, investor cukup membayar franchise fee kontrak lima tahun
berikutnya 50% (Rp 125 juta). Angka Rp 125 juta itu merupakan standar biaya
waralaba investor yang masuk 2004. Biasanya, tiap periode, jumlah biaya waralaba
yang dibanderol terus naik.
Di luar biaya waralaba lima tahunan, franchisee Century 21 masih wajib bayar
royalty fee bulanan sekitar 10,8% dari total pendapatan komisi atau minimal Rp 1
juta. "Saya bersyukur rata-rata tiap bulan berhasil melampaui target
minimal royalty fee," ungkap Ali. Keberhasilan memenuhi target penjualan
itu otomatis mempersingkat masa pencapaian BEP menjadi tiga tahun dari yang
dijanjikan lima tahun.
Kendati Ali tak mau buka kartu berapa omzet atau laba yang dihasilkan per
bulan, tapi ia memaparkan rata-rata berhasil membukukan transaksi 15-25 unit
properti. Bentuknya: rumah, apartemen, ruko, dan kavling.
Senada dengan Budi yang merasa berat investasi pada tahun pertama, begitu
pula Ali. Untuk waralaba agen properti ini butuh investasi cukup besar buat sewa
gedung. Ia mengaku menggelontorkan duit Rp 400 juta untuk ongkos operasional dua
tahun pertama. Setelah itu, cukup ringan dengan membayar gaji tujuh karyawan
tetap dan komisi 30 tenaga pemasaran. "Justru biaya operasional terbesar
setelah gedung adalah bayar telepon," katanya.
Guna menggenjot pendapatan waralaba Century 21, Ali merasa perlu totalitas
membesarkan bisnis itu. Caranya: berpartisipasi aktif terjun dalam bisnis broker
properti. Jadi, tidak sekadar tanam duit dan menyerahkan pengelolaan kepada
orang lain.
Masih ada beberapa jenis investasi waralaba di bawah Rp 250 juta, selain yang
dipaparkan di atas. Berdasarkan riset SWA, ada Warintek 9000 (warung
telekomunikasi dan teknologi) yang modalnya Rp 32,4-83,2 juta, Balon Rp 21 juta,
salon Rudy Hadisuwarno Rp 250 juta, rental VCD/film Video Ezy Rp 100 juta,
Office 1 Superstore Rp 50 juta, dan Future Kid Rp 125 juta.
Iming-iming return yang disodorkan semua waralaba kecil tersebut memang
menarik. Akan tetapi, itu bukan berarti tanpa risiko. Dalil investasi; high
risk, high return, tetap berlaku. Rata-rata risiko pelik yang dihadapi para
franchisee ialah minimnya penjualan. Dan penjualan yang tidak memenuhi target
dipicu oleh kesalahan memilih lokasi. "Kami pilih tempat yang gampang
dilihat orang, akses mudah, wilayah berkembang, dan banyak developer beroperasi
di sekitarnya," ungkap Ali.
Begitu pula halnya dengan Rossiani. Dia perlu waktu berbulan-bulan hanya
untuk survei lokasi. Budi pun khawatir jika lokasi tidak strategis, ia tak mampu
memenuhi target laba minimal Rp 8 juta/bulan. Pasalnya: kalau kondisi buruk itu
terjadi, bukan untung, malah buntung.
Namun, para investor waralaba tersebut optimistis dengan pilihan investasi
masing-masing. Semuanya berambisi menambah cabang dan menjadi andalan asap dapur
mereka. Rossiani, umpamanya, meski telah memiliki lima gerai, masih berniat
menambah beberapa cabang lagi. "Karena saya karyawan, maka ingin mencari
penghasilan sampingan dari bisnis yang prospektif," papar wanita kelahiran
Medan 10 Agustus 1971 itu. Budi tak mau ketinggalan. Lelaki ini ingin
meningkatkan gerainya menjadi tiga outlet. Ia rela meninggalkan pekerjaannya
sebagai karyawan untuk serius menekuni bisnis waralaba minimarket yang
dianggapnya lebih menjanjikan.