Hindu-Indonesia.Com
Ucapan Terima Kasih   |  Opini Anda Lihat Tamu  | home |
::::

logo.jpg (26320 bytes)
Parisada

 Keto Kone
 
  Sebuah Doa Yang Terlupa...
 

From: I gede Mahendra
To: hindu-dharma@itb.ac.id
Date: 10 May 2004, 11:42:52 AM

OM Swastyastu..

Majeng ring para Penglingsir, semeton sami HD sane wangiang titiang... taler umat se Darma sane tresnain titiang... N temen-teman gue..yang sering charting ama gw salam kangen aja..

PHDI boleh ada dua versi camphuan atau apa itu.... (maaf gue juga lupa) namun pada dasarnya adalah semua sama, ada yang mempertahankan pendapat dan juga ada yang memperjuangkan kepentingan hal ini tidak ubahnya seperti perang Khurusetra...
Itulah dunia MESIAT ( perang ) membunuh atau di bunuh, tapi..dalam versi ini yang akan dibunuh adalah umat dalam arti keyakinan kita bersama. Kalau PHDI dan Nyepi ada dua saya yakin pada saatnya nanti akan terjadi ONGKARA ADU MUKA, dan ONGKARA GNI, kenapa demikian tetangga sebelah dengan khusuk merayakan brata penyepian , sedangkan yang sebelahnya lagi menghidupkan musik dugem LINKIN PARK, HOUSE MUSIK, karena mereka mempunyai keyakinan yang berbeda akibat MILU-MILU TUWUNG.. dalam merayakan Brata penyepian, atau bisa jadi Nepak Kulkul sebab di banjar sebelah tidak merayakan penyepian karena pada waktu itu ada sangkepan banjar... Padahal kita tahu Bapak-Bapak yang duduk di meja PHDI yang rata-rata pendidikanya SAg (sarjana agama) yang sudah tentu paham dengan ajaran-ajaran yang benar tentang agama hindu, saya jadi kwatir jangan-jangan SAg nya akan berubah menjadi ( sarjana alam gaib) akibat terlalu sering menerima pewisik, dawuh, dari Jatma Sekala untuk tujuan-tujuan tertentu...

Dalam hal ini kita semua tidak bisa meyalahkan satu pihak yang jelas sudah saatnya kita terbuka dalam satu forum damai sehingga kita semua mendapatkan WINDU ONGKARA, yaitu kesepakatan, keselarasan, dan kebersamaan dalam bentuk bulat. Jangan kepentingan pribadi lantas menjadi tujuan dan mengatasnamakan spiritual atau memberikan janji kapling sorga kepada umat untuk memecah belah SRADA.. Begitu juga siapapun anda sang pembuat, penyusun wariga (kalender) apakah anda memakai candra sangkala, atau surya, yang jelas bagi saya pribadi arah mata angin adalah kesepakatan semata dan pendidikan bagi manusia, sebab yang timur itu belum tentu timur tergantung dari arah mana kita melihat, yang jelas Si COLOMBUSH lah yang mencetuskan agar manusia tidak bingung dalam arah Jangan membuat kalender atau acuan yang akan membuat KALA TEMAH, dan KALA RUMPUH bagi tatanan masyarakan secara umum sehingga kita di buat bingung.

Jadikanlah SEDANA YOGA, AYUNULUS, dan AMERTA DEWA bagi kita semua, apalagi tidak setiap umat paham dengan apa yang di tulis di dalam acuan wariga tersebut termasuk saya... he, he.. Apakah penampih sasih akan menjadi sebuah penampih bhaya? (mara baya) bagi saya kita punya lembaga yang cukup handal yang akan menjawab semua itu dengan bijak memakai pikiran LINGSIR...(wiweka, winaya).

Yang saya kwatirkan adalah Hindu itu sudah kecil, hanya sebutir biji padi di bandingkan agama lain lalu kita masing-masing mengeluarkan pendapat seolah-olah SAPTA RSI, sementara umat lain, Islam, Kristen, bagaikan TETANI (rayap) menggroti setiap TAMPUL BALE AGUNG kita ( sendi bagunan tempat rapat bagi desa adat) untuk masuk Bali, apalagi dari sektor pendidikan kita kalah jauh di bandingkan mereka, belum pernah saya mendengar ada sekolah HINDU yang dikelola secara profesional di luar Bali. Mereka punya sekolah-sekolah yang akan masuk dan mendogma anak-anak MAJAPAHIT, BALI AGA, dengan teknik pendidikan....supaya menjadi anak-anak I Ketut petrus, dan Ida Bagus Syarif.. Boro-boro bisa bikin universitas yang banyak, baru akan punya satu saja udah di obok-obok yang di lampung, itu baru berita yang saya denger... Mereka itu pintar, dan ampuh setiap sektor yang kosong mereka masuki, radio televisi, untuk sebuah iklan, anak-anak kita mungkin lebih fasih bilang ya ALLAH... dari pada oh Brahman, atau jagat Dewa Bathara.. apa lagi pergaulan anak-anak muda sekarang memakai wacana gaul "CE ILLAH,,, ketika mendengar kabar dari temanya, jangan menoreh luka yang belum kering..mereka baca celah kelemahan kita...

Bali bagaikan lingkaran gaib yang selalu di dera dengan masalah pribadi di tubuh yang lagi koyak....dan terseok akibat debat yang tak berujung dari AKSARA WAYAH Agama adalah sistem, dan lembaganya adalah pengerak dari sistem itu bagaikan sebuah mesin satu dengan yang lain berhubungan ini yang harus kita pahami...

Kita harus maju bersama dalam damai sebab bapak-bapak di PHDI juga butuh bantuan energi dari kita, beliau-beliau ini adalah NGAYAH, LAYAH, MAYAH, dan PAYAH yang terakhir inilah yang berbahaya.... Kita mungkin terlalu bangga dengan sebuah keagungan MERU di merajan, atau pura, sehingga sebutan plat mobil pun ikut nimbrung dengan huruf DK 300 S (demen kaden boos) sementara kita lupa dengan arus balik lebaran membanjiri setiap tahun di pelosok desa, dan kota.

Dagang BAKSO SAPI pun nempel bak prangko di sudut-sudut penyengker Pura, asap sate SAPI bercampur manis dengan asap kemenyan cendana dan gharu saat pujawali.. namun.. beranikah kita menjual babi guling di pinggir tembok masjid, berjualan lawar, dan siobak, sementara kita berwacana memuja kemuliaan sapi menurut VEDA... catatan: ketika saya pulang dari Manado dipesawat saya bertemu dengan pak haji, pada saat itu dia mau ke Bali, saya mengaku warga muslim agar dapat info (intel spirit) pak haji itu bertutur sama saya, kendatipun orang bali di bilang fanatik namun.. mereka lemah..dalam benak saya, ternyata mereka punya resep khusus untuk penyebaran agama.. lalu saya berpikir lembaga desa adatlah yang harus kuat dalam mengantisipasi masalah ini.

Ketika di dalam tubuh HINDU ada pertikaian kepentingan hanya gara-gara dan DOT KADEN pada saat itulah musuh akan masuk, ingatlah pembrontakan RONGGO LAWE dimana tatanan yang terdalam di rusak dulu....begitu juga apabila kerajaan PHDI rusak dari dalam maka siap-siaplah menghadapi perang PAREGREG II.

Ataukah kita lupa dengan makna sebuah doa OM SANTI, SANTI, SANTI, OM yang sering kita ucapkan sambil mencakupkan tangan dan mata terpejam? Bukankah kedamaian yang kita dambakan melalui doa itu, lalu kenapa kita mulai dengan pertengkaran hanya gara-gara sebuah IDE WARIGA...

Se moga ini menjadikan sebuah renungan, saya hanyalah anak desa dari karangasem,yang kini di masuki oleh penjual BAKSO dan hanya bisa menyesali nasib, SEKADI DEDALU TAN PEKAMPID ( laron tanpa sayap) tanpa bisa berbuat banyak selain mendambakan kedamain di umat sendiri...

Kesimpulanya janganlah pernah membikin masalah bagi orang banyak dan membikin perbedaan bagi agama karena itu adalah WAHAM ( pikiran sesat yang di pertahankan) baiarkanlah aturan yang sudah di tetapkan dan di sepakati berjalan dengan semestinya..demi kedamaian kita semua. Jangan pula memperebutkan siklus alam (penampih sasih) yang sudah di atur oleh Brahman, sebab beliau lebih tahu dari kita, secanggih-canggihnya wariga belum ada wariga yang mampu mendeteksi angin ribut dan gempa bumi...kapan terjadi.. RTA adalah keseimbangan alam semesta dan alam pikir manusia, bukan pikiran logika.

Siapa yang menjamin besok akan terjadi bencana alam setelah kita di bilang canggih dalam mewariga.. kenyataanya kita semua adalah buta, hanya sang bijaksanalah yang mengetahui kebenaran.. Yang benar adalah maju bersama dalam kedamaian rohani bukan saling PERIRIHIN... AKHIR KATA : ampura pisan yening wenten atur titiang nenten becik ring para semeton HD sareng sami... SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA.. INGGIIH SUKSEME

~ M ~

 
 Source :   HDNet
 
 
 
Print artikel  |  Kirim ke teman
:::::  

Copyright © 2003 Parisada All Rights Reserved.